Header Ads

Header ADS

KEKERASAN DAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI LINGKUP PENDIDIKAN, PERLU SENTUHAN PEMERINTAH

Nganjuk, Pojok Kiri, Pendidikan Indonesia khusunya kabupaten Nganjuk, masih banyak menyisahkan kisah pilu, terutama masalah kualitas guru, sekolah yang kurang ramah terhadap siswa didik dan yang paling menyedihkan deskriminasi terhadap siswa didik yang tergolong kaum marginal.

Kualitas guru menjadi rendah dikarenakan rasio ketersediaan guru di sekolah pinggiran, rata-rata para pengajar kurang mampu beradaptasi dengan siswa didiknya, dan ketersediaan alat peraga siswa yang sangat minim. Bahkan ketersediaan guru SD yang rata-rata 3 guru PNS dan itupun sudah termasuk kepala sekolah, menjadi pemicu sekolah kurang menonjolkan karakter dan budaya ke-Timuran. 

Hal ini bisa dilihat dalam sistem pembelajaran di sekolah yang rata-rata lebih menonjolkan cara belajar pasif pada peserta didiknya. Dimana buku paket atau buku wajib belajar siswa kini keberadaannya mulai tergerus dengan buku Lembar Kerja Siswa  (LKS) yang dibuat oleh para penerbit komersial. Sedangkan buku paket keberadaannya hanya sebagai pelengkap saja.

Ini juga bisa dilihat pada anak-anak dirumah, sepulang sekolah yang dibuka atau yang dijadikan bahan ajar adalah buku LKS. Buku paket tidak pernah disentuhnya. Anak-anak hanya belajar bagaimana cara mengisi soal, bukan bagaimana anak berimajinasi dan berfikir positif serta aktif dalam menerjemahkan buku paket tersebut. 

Disisi lain sekolah menjadi kurang ramah dan tidak mampu mencetak karakter yang bagus, disebabkan karena lingkungan sekolah itu sendiri, contohnya, ekonomi masyarakat yang rendah sebagai pemicunya, hal ini terlihat masih maraknya kekerasan di sekolah, baik fisik maupun non fisik, bahkan peredaran narkoba kini juga mulai marak menjangkit para pelajar. 

Sedangkan kekerasan yang sering terjadi di lingkungan sekolah dapat terbagi dalam enam type, diantaranya penganiayaan guru terhadap siswa didik, siswa didik terhadap guru, siswa didik terhadap sesama siswa didiknya, wali siswa didik terhadap guru, tawuran antar sekolah dan pelecehan seksual.

Deskriminasi terhadap siswa didik dari kaum marginal, akses pendidikan bagi kaum ini, bisa dibilang masih rendah. Sedangkan kaum yang masuk kategori ini adalah perempuan, anak seorang yang terpenjara atau eks napi, anak dari keluarga yang ekonominya kurang beruntung, kelompok difabel, dan anak-anak dari kaum pengungsi.

Sedangkan narkoba, bagi sebagian pelajar menjadi trend, hal ini dikarenakan kurangnya pengawasan dan wawasan bahaya laten narkoba dari semua kalangan baik masyarakat itu sendiri maupun seluruh stakeholder. Apalagi narkoba adalah salah satu ancaman yang serius bagi ketahanan suatu negara, karena peredarannya ber-kategori kejahatan antar negara (Transnational Crime) yang pengoprasiannya sangat terorganisir dan pangsa pasarnya tidak pandang bulu (Indiskriminitif), dengan sasaran utama remaja usia produktif (pelajar). 

Langkah Pemerintah.

Untuk memajukan pendidikan Nganjuk agar lebih maju dan terhindar dari kekerasan di lingkungan sekolah dan berkarakter serta mampu disejajarkan dengan pendidikan di kota-kota besar yang pendidikannya is the best. Yaitu adanya komitmen pemerintah daerah dalam  meningkatan kualitas guru. Pengembangan kualitas guru pemerintah daerah harus punya peta yang jelas, terukur, dan berkesinambungan.

Pemerintah daerah  Nganjuk melalui dinas pendidikan melakukan evaluasi dan pemantauan secara berkala. Ini disebabkan karena tidak menutup kemungkinan guru akan menjadi dilema yang berkepanjangan.

Harus ada sangsi yang tegas dari dinas terkait terhadap pihak yang melakukan tindak kekerasan di lingkungan sekolah, karena bukan tempat atau arena tinju bebas. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar mengajar menjadi aman dan ramah terhadap siswa didik. Selain itu pemerintah daerah harus mampu mendorong sekolah dan wali siswa didik berperan aktif dan berpartisipasi dalam mengontrol lingkungan sekolah.

Pemerintah daerah juga harus memberikan kebijakan afirmasi bagi golongan atau kaum marginal atas diskriminasi pendidikan yang dialaminya. Ini semua dikarenakan masih banyaknya anak yang tidak sekolah atau putus sekolah karena status yang disandangnya. 

Dan yang terakhir, pemerintah daerah bersama BNN dan kepolisian sudah saatnya menerapkan pemahaman bahaya narkoba pada anak sejak dini, mulai Paud, TK dan SD atau melakukan sosialisasi dan penyuluhan tentang bahaya narkoba. Sebab dengan kurangnya pemahaman tersebut, menyebabkan masyarakat mudah dipengaruhi penyebaran narkoba. Bahkan kepala daerah melalui kepala dinas Pendidikan juga harus mulai memikirkan cara memberikan materi tambahan tentang ancaman dan bahaya narkoba baik bagi diri sendiri maupun negara.
Indriawan Pemerhati Pendidikan Nganjuk. 

No comments

Powered by Blogger.