Header Ads

Header ADS

KELUARGA PASIEN MENINGGAL AKAN TUNTUT RSUD NGANJUK

Nganjuk, Pojok Kiri, keluarga pasien Suntari yang meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nganjuk tipe B berencana menuntut pihak RS, karena diduga telah melakukan malpraktek atau kelalaian medik (medical negligence). Pasalnya Hari Swasono 58 pensiunan RS tersebut suami dari pasien meninggal yang juga PNS RSUD Nganjuk meninggal karena penanganan yang dilakukan dokter terhadap pasien dinilai lamban.
Hal ini sebagaimana yang dikatakan Hari pada media ini, sikap tindak profesional dokter yang menangani istrinya yang kurang responsif dalam melaksanakan kewajiban profesinya, sehingga terjadi adanya kegagalan dokter dalam menerapkan standart pelayanan medis terhadap pasien, atau mengabaikan perawatan pasien yang akhirnya menjadi penyebab langsung terjadinya kematian istrinya. 
“Awalnya istri saya mengalami sesak nafas, dan meminta saya untuk mengantar ke RS, pada 11 November 2019, sekitar pukul 22.30, kami sampai dan langsung menuju Instalasi Gawat Darurat. Anehnya disana tidak ada petugas yang membantu untuk menurunkan pasien. Ini sama artinya petugas IGD masa bodoh dengan para pasien yang ingin betobat atau fungsi transporter yang kurang optimal atau buruk," ujar hari pada media ini sambil matanya berkaca-kaca. 
Kejadian yang tidak mengenakan pada pasien atau keluarga (Hari Swasono) tidak cukup pada saat datang, tapi saat penanganan medis oleh dokter-pun dinilainya kurang responsif. Karena setelah dilakukan diagnosa, lalu dilakukan pemasangan alat medis, yaitu oksigen dan monitor alat pacu jantung, istrinya tambah kritis sedangkan kesigapan dokter dinilainya sangat buruk. Bahkan para petugas medis yang bertugas saat itu malah asyik main hanphone genggamnya. 
Dilain pihak kondisi istrinya semakin kritis, dan saat mencoba memegang tangan pasien suhu badannya sangat dingin karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka Hari memanggil Dokter dan meminta untuk dipindah keruangan ICU. Lagi-lagi tanggapan Dokter sangat kurang respon dimana pasien yang saat itu kritis dan memerlukan tindakan medis cepat malah sangat lamban. 
"Disini seharusnya yang mempunyai respon untuk segera memindahkan pasien adalah Dokter, karena dialah yang paham akan kondisi pasien tapi malah terbalik, saya yang meminta dokter untuk segera memindahkan istri (red. Pasien)  ke ruang ICU dan mendapatkan tindakan medis cepat. Parahnya lagi saat dilakukan pemindahan monitor alat pacu jantung dibuka/dilepas sedangkan sebagaimana SOP alat yang menempel di tubuh pasien tidak boleh dilepas. Ini menurut saya sudah menyalahi prosedur dan salah satu yang mengakibatkan istri saya meninggal," ujarnya 
Meski sadar kematian istrinya adalah ketentuan dari Sang Kholiq tapi Hari akan tetap melakukan penuntutan ke pihak RS dan Dokter yang memberikan tindakan penanganan medis yang begitu lamban dan kurang profesional ditambah lagi petugas yang ada di IGD rata-rata belum memiliki dasar penaganan kegawat daruratan.

 Sedangkan menurut Kasubag Hukum dan Humas RSUD Nganjuk Eko Santoso, SH mengatakan dengan apa yang telah dilakukan pihak RSUD Nganjuk terhadap pasien, sudah sesuai SOP. Meski begitu, dia akan melakukan klarifikasi mulai petugas IGD sampai ICU. "Karena kami baru mengetahui , kalau ada keluhan dari keluarga pasien terkait pelayanan dan penanganan pasien, kami akan melakukan tindakan konsultasi pada pimpinan," ujar Eko diruang kerjanya. 

Sedangkan menurut ketua DPRD Nganjuk Tatit Heru Tjahjono mengatakan,  dengan adanya keluhan keluarga pasien yang sampai akan melakukan tindakan hukum, adalah preseden buruk di dunia kesehatan Nganjuk, dimana pelayanan dan penanganan medis harus menjadi prioritas utama dalam melakukan tindakan medis. 
"Hal ini sering saya dengar dari keluarga pasien, karenanya saya akan melakukan hearing dengan pihak RS secepatnya dan juga akan menginstruksikan kepada komisi yang membidangi untuk melakukan sidak terkait keluhan-keluhan keluarga pasien," pungkas Tatit diruang kerjanya, 25/11/2019. (Ind) 

No comments

Powered by Blogger.