Header Ads

Header ADS

ARIF UMBAR AIB LECEHKAN ISTRI SYAR'I-NYA DALAM GUGATAN PERDATA

Dewi Anawati bersama kuasa hukumnya Bambang Sukoco, SH, MHum 

Nganjuk, Pojok Kiri, Kasus perdata Arif Safiudin (penggugat) dengan Dewi Anawati, PNS salah satu instansi di pemerintahan kabupaten Nganjuk  (tergugat) sampai kini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Pemicunya adalah komentar Arif yang mengatakan dirinya hidup serumah dengan tergugat tanpa ikatan jelas, bahkan dirinya sampai mengutip pasal 14 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PPRI) Nomer 45 tahun 1990 tentang perubahan atas PP Nomer 10 tahun 1983 tentang ijin pernikahan dan perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil yang berbunyi Pegawai Negeri Sipil dilarang hidup bersama dengan wanita yang bukan isterinya atau dengan pria yang bukan suaminya sebagai suami tanpa ikatan perkawinan yang sah.

Sedangkan pokok gugatan yang dilayangkan pihak penggugat ke Pengadilan Negeri Nganjuk, adalah rumah yang katanya milik penggugat kini beralih ke tergugat. Tapi hembusan isu tidak pada pokok bahasan, melainkan pada pribadi tergugat yang katanya pernah hidup serumah dengan penggugat tanpa ikatan yang syah. Aib yang disebarkan penggugat dengan tujuan pencemaran atau menjatuhkan nama tergugat, membuat kuasa hukum tergugat Bambang Sukoco, SH, MHum, memaparkan pada awak media, kalau kliennya hidup serumah dengan penggugat secara syariat Islam adalah istri syah dari penggugat. Karena tergugat dengan penggugat telah melangsungkan pernikahan sebagaimana syarat rukunnya pernikahan.

Bambang Sukoco, SH, MHum sambil menunjukkan surat Akte Nikah Sirri

"Penggugat mengatakan hidup serumah dengan tergugat tidak ada ikatan jelas (kumpul kebo) sangat tidak benar, karena penggugat telah melangsungkan pernikahan sirri dengan tergugat pada tahun 2017 dengan dihadiri wali dan saksi dari kedua belah pihak, sebagaimana surat akta nikah siri bermaterai dan bertandatangan kedua mempelai, wali nikah dan dua saksi. Jadi menurut agama, Syar'i nikah sirri hukumnya syah. Bahkan hal tersebut juga diatur dalam UU Nomer 1 tahun 1974 pasal 2 ayat (1) yang berbunyi, perkawinan adalah syah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan itu," ujar Bambang Sukoco kuasa hukum penggugat. 

Hal yang sama juga disampaikan Trisna Eka Setyowati koordinator Yayasan Spirit Pelangi dan Pendiri yayasan Puspa (Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan Dan Anak) pada media ini mengatakan, seorang laki-laki yang sesungguhnya telah melakukan perkawinan, minimal sebagaimana hukum syahnya perkawinan, yang diatur oleh agama yang dianutnya dan tidak diakuinya, sungguh sangat disayangkan. Karena seorang lelaki tersebut sama halnya telah melecehkan agamanya dan yang ke-kedua penggugat telah menganggap wanita hanya sebatas pemuas syawatnya.

Trisna Eka Setyowati pendiri yayasan Puspa

"Dugaan saya terhadap Arif sebagai penggugat, dengan menceritakan hal yang tidak pantas atau aib dirinya, pada media terkait kehidupannya selama tiga tahun hidup serumah dengan tergugat bagaikan kumpul kebo, sama halnya telah merendahkan harkat dan martabat wanita. Tapi kalau benar pihak penggugat dan tergugat telah melangsungkan pernikahan walaupun sirri, sedang penggugat tidak mengakuinya, sama halnya penggugat telah melecehkan agama yang dianutnya, karena nikah sirri bertujuan untuk menghindari dari perbuatan zina dan semua perbuatan keji," ujar Trisna.

Masih lanjut pendiri yayasan Puspa, penggugat dengan menggiring opini, kalau dirinya telah hidup serumah tanpa ikatan jelas bahkan sampai mengutip PP tentang PNS yang hidup serumah tanpa ikatan yang jelas, tidak beralasan, karena sebagaimana dalam pemberitaan media ini terdahulu, pengacara tergugat menunjukkan pada media kalau kliennya telah melakukan nikah sirri. Dan juga perkataan penggugat yang mengatakan sangat dirugikan oleh penggugat juga tidak mendasar. Karena dengan perkataan penggugat yang mengumbar aib sama halnya telah membunuh psikis tergugat.

""Perkataan penggugat sunguh sangat saya sayangkan, karena hal tersebut tidak pantas diumbar pada media dan dijadikan konsumsi umum. Apalagi penggugat mengatakan cinta dan masih ingin menikahi tergugat sebagaimana syahnya hukum administrasi negara. Apakah seperti ini calon suami atau calon pemimpin keluarga, mendidik calon istrinya...? Hanya dia yang mengetahuinya," pungkas Trisna koordinator Spirit Pelangi pada media ini, 24/12/209. (Ind) 

No comments

Powered by Blogger.