Header Ads

Header ADS

DIBERITAKAN HIDUP KUMPUL KEBO, WANITA PNS MENOLAK KARENA TELAH NIKAH SECARA SYAR'I

Nganjuk, Pojok Kiri, Dalam sidang perdana gugatan perdata antara Arif Safiudin (46) penggugat, warga Desa Sidoharjo Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk, dengan pihak Dewi Ernawati (50), PNS di lingkup Pemerintah kabupaten Nganjuk selaku tergugat, digelar di Pengadilan Negeri Nganjuk pada Rabu kemaren, yang dipimpin hakim ketua Anton Rizal, SH.

Pada sidang perdana kemaren diputuskan untuk dilakukan mediasi dengan menunjuk hakim Diah Nursanti, SH sebagai mediator dengan tenggang waktu selama 30 hari kedepan. Sedangkan disela-sela persidangan gugatan perdata Arif Safiudin melalui kuasa hukumnya Sandi Satria Putra, SH mengatakan kalau Dewi Ernawati telah melakukan pelanggaran Pasal 14 Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1990 tentang Perubahan Atas PP Nomor 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil, yang berbunyi, Pegawai Negeri Sipil dilarang hidup bersama dengan wanita yang bukan isterinya atau dengan pria yang bukan suaminya sebagai suami tanpa ikatan perkawinan yang sah.

Hal ini membuat pihak Dewi merasa tidak terima dengan perkataan kuasa hukum penggugat, karena sebagaimana yang dikatakan Dewi melalui kuasa hukumnya Bambang Sukoco, SH, MHum menjelaskan, kalau kliennya secara syar'i (syariat Islam) telah dinikahkan secara sirri. Sebagaimana Undang-Undang Nomer 1 tahun 1974 tentang perkawinan pasal 2 ayat (1) yang berbunyi, perkawinan adalah syah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayan itu.

"Sedangkan pihak penggugat dengan tergugat telah melaksanakan sebagaimana yang diamanatkan UU tersebut. Jadi tidak benar kalau mereka dianggap kumpul kebo atau hidup serumah tanpa ikatan yang tidak jelas. Sebab dalam UU perkawinan dengan jelas meletakkan hukum agama dan kepercayaan adalah salah satu syahnya perkawinan, bukan pencatatan di buku akte Nikah," ujar Bambang Sukoco pada media ini sambil menunjukkan bukti surat Akte Nikah Sirri pada awak media. 

Masih lanjut Bambang Sukoco menambahkan, setelah adanya sidang gugatan pertama pihaknya saat ini masih dilakukan mediasi oleh Pengadilan Negeri Nganjuk, dan untuk hasilnya masih belum, karena pihak penggugat mau berdamai dengan catatan seperti tuntutan awal, hal ini merugikan kliennya, sebab disatu sisi, Dewi sebagai kliennya adalah istri syar'i Arif. Yang sudah sewajarnya seorang suami memberi nafkah, berupa sandang, pangan dan papan. Sedangkan terkait penolakan Dewi untuk dijadikan istri, karena diketahui Arif telah melakukan perkawinan dengan wanita lain lagi.

"Penggugat dengan mendaftarkan gugatannya ke PN, sama halnya dengan mengkaburkan perkara yang seharusnya didaftarkan ke PTUN. Apalagi penggugat sampai mengarang cerita kalau dirinya hidup serumah dengan Dewi klien saya tanpa ikatan yang jelas dan telah merugikan pihak penggugat. Nanti bisa kita buktikan siapa sebenarnya yang lebih dirugikan. Saya sebagai kuasa hukum Dewi tidak mau umbar pokok bahasan yang telah masuk pada rana pengadilan, lebih baik kita buktikan nanti disana," pungkas Bambang Sukoco pada media ini, 18/12/2019. (Ind)

No comments

Powered by Blogger.