Header Ads

Header ADS

POHON JATI DITANAH GARAPAN MANTAN SEKDES DISERAHKAN KE MASJID DI TOLAK KEPALA DESA KEDUNGREJO

Nganjuk, Pojok Kiri, Dugaan perselisihan antara kepala desa (kades) Kedungrejo kecamatan Tanjunganom kabupaten Nganjuk Sujarwo dengan mantan sekretaris desanya (sekdes) Joko Sujiono, sempat muncul kepermukaan dan ramai diperbincangkan masyarakat setempat bahkan juga disinyalir merebaknya isu itu telah sampai kemasyarakat luar desa. Ketidak harmonisan keduanya terlihat sejak Joko Sujiono masih menjabat sekdes dan pemicu persoalannya diduga permasalahan lama (pribadi) yang berbuntut pada lahan bengkok, ditiap galengan ditanamani pohon jati yang ditanami oleh penggarap lahan tersebut dan karena usia dari tanaman itu sudah cukup umur maka dilakukan penebangan.

Kepala desa Kedungrejo Sujarwo mengetahui, pohon-pohon yang berada digalengan sawah lahan bengkok/sewa sekdes sudah besar-besar dan berfikir untuk mengamankan, maka dirinya mengeluarkan surat Nomer 06/411.519.14/2019 tertanggal 01 November 2019 yang berbunyi bahwa penggarap lahan untuk segera mengosongkan lahan tanah kas desa paling akhir 30 Desember 2019. Dengan diterimanya surat tersebut, mantan sekdes Joko yang kini ditarik ke kecamatan Prambon langsung mengambil langkah cepat yaitu menjadikan lahan garapannya seperti keadaan semula. 

Seperti yang dikatakan mantan sekdes Joko pada media ini, dirinya setelah mengartikan surat desa tersebut, lalu mulai melakukan pengosongan lahan dengan menebangi pohon yang ia tanami,  agar sebelum jatuh tempo, lahan yang disewanya benar-benar dalam keadaan kosong. Tapi saat melakukan upaya pengosongan lahan, kepala desa Sujarwo datang dan melarangnya. Hal ini menjadikan dirinya sangat rugi, dimana lahan yang ia garap adalah tanaman yang ditanaminya sendiri bukan tanaman bawaan. Jadi menurutnya tanaman yang ditanaminya sendiri adalah haknya sebagaimana tanaman lainnya. 

"Dalam surat desa, sebelum saya menyerahkan lahan bengkok/lahan sewa, untuk mengosongkannya, disaat saya mulai lakukan pengosongan saya dilarang, lantas kalau mengosongkan lahan, sedang diatasnya ada tanaman yang saya tanam sendiri apa tidak boleh saya ambil dan apakah arti dalam mengosongkan bukan berati mengembalikan seperti keadaan seperti semula, keadaan seperti sebelum saya garap," ujarnya kecewa atas tindakan kepala desa Kedungrejo yang menghalanginya untuk mengambil haknya atas lahan garapan tersebut. 

Karena kedua pihak sama-sama mempertahankan argumentasinya dan semuanya mengatakan yang paling benar, maka pada Rabu, 11/12/2019  sekira pukul 17.00 WIB dilakukan mediasi oleh Camat, Forkopimcam Tanjunganom, BPD dan perangkat desa  di balai desa Kedungrejo kecamatan Tanjunganom kabupaten Nganjuk. Dalam mediasi masih terlihat alot sehingga salah satu pihak (mantan sekdes) akhirnya mau juga mengalah, dan mau menghentikan aktifitasnya menebang serta meninggalkan satu pohon yang terbesar. Mediasi berakhir jam 19.30 WIB dengan melakukan jabat tangan diantara mereka yang bersengketa. 

"Sengketa tanaman pohon sudah selesai, dan ini akan menjadi pengalaman sangat berharga bagi saya kedepannya, untuk lebih berhati-hati dalam menyewa tanah, agar sebelum adanya tegoran untuk mengembalikan, lahan sudah harus dikosongkan. Apalagi dengan adanya permasalahan ini, jujur saya pribadi sangat malu pada camat dan lainnya, karena itu saya biarkan satu pohon sebagai kenang-kenangan, dan apalagi pohon yang ditebang itu kayunya bukan untuk saya tapi untuk pembangunan masjid Al Falah yang terletak di dusun Pulorejo, itupun saya serahkan pada takmir Masjid jauh sebelum surat tegoran itu," tutur sekdes Joko lagi.

Bendahara Takmir Masjid Al Falah Agus saat dikonfirmasi media ini membenarkan kalau pohon yang ada digalengan sawah garapan mantan sekdes telah diserahkan untuk pembangunan Masjid sekitar setengah tahun yang lalu, jauh sebelum ada isu sekdes PNS ditarik dari desa. Sedangkan untuk ongkos tebangnya, rencananya diambilkan dari hasil penjualan pohon trembesi. "Dengan adanya permasalahan ini, sepertinya Kepala desa seakan tidak setuju kalau kayu tersebut untuk Masjid. Tapi biarlah kalau memang kepala desa tidak setuju, tidak apa-apa. Karena Allah, akan tetap memudahkan kami untuk renovasi ini," ujar Agus dirumahnya. 

Ditempat terpisah kepala desa Kedungrejo Sujarwo mengatakan, dirinya sesungguhnya sangat malu dan tidak mau permasalahan ini menjadi ramai bahkan menjadi konsumsi umum, karena itu dirinya menolak dikonfirmasi media ini dan mengatakan no coment, apalagi permasalahan ini adalah permasalaham intern. Tapi disisi lain, dirinya mengakui kalau akan ada surat desa ke-dua atas pohon yang telah ditebanginya dan menjadi kayu olahan. "Maaf ini masalah intern dan tidak layak publikasi, tapi dengan adanya surat pertama akan ada surat ke-dua atas pohon yang ditebanginya dan telah menjadi kayu olahan," ujar kepala desa Sujarwo, seakan keceplosan mengatakan pada media ini, karena sebelumnya mengatakan no coment. 

Sementara ditempat terpisah, salah satu warga setempat yang tidak mau menyebutkan namanya menduga, kasus ini akan menjadi permulaan atau ronde awal dari pertandingan-pertandingan yang akan dilakukannya. Karena kepala desa Sujarwo disinyalir akan mengeluarkan jurus baru atas penebangan tersebut, sedangkan mantan sekdes juga akan mengeluarkan jurus lamanya, sehingga terjadi bongkar-bongkaran barang terpendam yang telah tertutup rapat dan akhirnya yang awalnya orang awam tidak tahu menjadi konsumsi umum. "Saya tidak tahu pasti perselisihan ini, dasarnya ego atau apa saya tidak tahu.  Yang jelas pemerintahan desa harus banyak belajar menjadi lebih dewasa atas setiap kejadian yang telah dilaluinya, " ujarnya sambil mewanti-wanti pada media ini untuk tidak mencantumkan namanya, karena dirinya sangat dekat pada dua kubu tersebut di sebuah warung kopi dusun Barong desa Kedungrejo, 15/12/2019. (Team)

No comments

Powered by Blogger.