Header Ads

Header ADS

HUT SMAN I NGANJUK KE-39 PERTAHANKAN BUDAYA LOKAL DITENGAH GERUSAN GLOBALISASI

Nganjuk, Pojok Kiri, Lembaga pendidikan bertujuan tidak hanya untuk meningkatkan kompetensi akademik semata, akan tetapi juga dituntut mampu meningkatkan literasi di era digital. Salah satunya dengan mengasah kemampuan siswa dalam seni budaya. Hal ini dimaksud para peserta didik, nantinya dapat menyaring budaya asing yang masuk dan mulai mengikis moral para generasi muda dengan memicu dan memacu kapasitas seni budaya di Indonesia. 

Seperti halnya SMAN I Nganjuk yang beralamat di jalan Kapten Kasihin HS Nomer 04 Cangkringan kelurahan Bogo kecamatan/kabupaten Nganjuk, pada ulang tahunnya yang ke-39 menggelar Wayang Kulit semalam suntuk dengan lakon "Sang Gladiator (Jagal Abilawa)" dengan Dalang Ki Akbar Syah Alam dan bintang tamu Percil, Kuntet dan Niken Salindri. Tujuan dari pagelaran ini sebagaimana yang disampaikan kepala SMAN I Nganjuk Drs. H. Mochamad Asob, MPd, yaitu untuk mendorong para peserta didik untuk mengenal kebudayaan dan kesenian asli Indonesia lebih dekat. 

"Pagelaran wayang kulit dalam HUT SMAN I Nganjuk ke-39, tidak lain sebagai salah satu sistem pendidikan karakter berbasis Pancasila, sebab, seni wayang kulit adalah kesenian asli Indonesia, karena dengan mencintai dan melestarikan budaya lokal adalah merupakan implementasi cinta tanah air. Disamping itu, gelaran ini juga untuk mengingatkan para peserta didik dan masyarakat sekitar lingkungan sekolah agar bisa mencintai warisan-warisan leluhur," tutur Mochamad Asob.

Masih lanjut kepala SMAN I Nganjuk, kebanggaan menjadi bagian dari bangsa Indoneaia dengan beragam budaya, sekaligus menjadi tantangan bagi semua rakyat Indonesia dalam mempertahankan budaya lokal untuk tetap terjaga dan lestari serta mampu memberi nilai ditengah-tengah gerusan globalisasi. SMAN I Nganjuk sebagai lembaga pendidikan dalam upaya berperan aktif dalam meningkatkan konsolidasi internal agar mempunyai kemampuan diri yang lebih tinggi, berkontribusi lebih baik dan secara khusus sadar akan peran budaya dalam pendidikan. 

"Lembaga pendidikan bukan hanya mencetak peserta didik prestasi, tapi yang berkarakter Pancasila, dengan lima butir sila-nya yang pada hakekatnya, merupakan satu kesatuan sila satu sampai pada sila ke-lima yang saling terkait. Kalau kita kaitkan dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon jagal Abilawa yang mencerminkan pribadi yang percaya diri, bersemangat menjadi pribadi yang positif dan selalu berusaha untuk menjadi orang yang selalu bermanfaat bagi banyak orang adalah salah satu sistem pendidikan sekolah ini dalam mencetak peserta didik," tutur Mochamad Asob lagi. 

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang dihadiri bupati Nganjuk H. Novi Rahman Hidayat, S.Sos, MM, Kapolres Nganjuk, AKBP Handono Subiakto Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Ramliyanto, SP, MP, kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi, Drs. Edy Sukarno, M.MPd  jajaran tenaga pendidik dan Peserta didik SMAN I Nganjuk, serta masyarakat sekitar lingkungan SMAN I Nganjuk, adalah penutup dari se-rangkaian kegiatan pada HUT SMAN I Nganjuk yang dimulai pada tanggal 22/12/2019 dengan Menggelar Bhakti Sosial dengan kegiatan Sunatan Massal,  02/01/2020, Jalan Sehat, 04/01/2020 Upacara HUT dan Sholawatan, 11/01/2020, Pagelaran musik Sheila On Seven. 

Sedangkan untuk gelaran kali ini, dibuka dengan atraksi peserta didik SMAN 1 Nganjuk dalam memainkan musik Karawitan dan atraksi seni tari. Setelah itu penyerahan wayang kulit (tokoh dalam lakon Jagal Abilawa) oleh kepala SMAN I Nganjuk Drs. H. Mochamad Asob, MPd kepada Dalang Ki Akbar Syah Alam yang bertanda pagelaran wayang kulit semalam suntuk dimulai. Disisi lain penonton yang berjubel memenuhi lapangan sepak bola utara SMAN I Nganjuk, sangat antusias mengikuti serangkaian acara demi acara hingga berakhirnya pagelaran ini. (Ind)

No comments

Powered by Blogger.