Header Ads

Header ADS

IPSI RANTING BARON SEPAKAT JUNJUNG WARISAN BUDAYA SEBAGAI SIMBOL KERUKUNAN

Nganjuk, Pojok Kiri, Pencak silat sebagai salah satu simbol warisan nenek moyang Indonesia yang juga ditetapkan sebagai tradisi Pencak silat (Tradition of pencak silat) ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity (Daftar representatif warisan budaya takbenda untuk kemanusian), Unesco di Bogota, Kolombia pada 12 Desember 2019. Pencak silat secara filosofis lebih menonjolkan gerak dan bunyi yang secara turun temurun masyarakat selama masa itu, membentuk cara pengendalian diri melalui tradisi pencak silat. 

Pencak silat tradisi Indonesia adalah jenis bela diri yang lebih condong pada filosofi, sehingga berkaitan erat dengan deskripsi warisan budaya takbenda Unesco untuk kemanusian. Sedang kalau merujuk dari kata kemanusian, yang sudah menjadi kewajiban kita semua, Koramil 0810/08 Baron, bersama Polsek Baron, Forkopimcam dan perwakilan 7 Perguruan Pencak silat se-kecamatan Baron berkomitmen dalam deklarasi kerukunan guna memberikan tauladan bagi masyarakat dunia bahwa Pencak silat mampu menciptakan perdamaian, stabilitas, dan pembangunan.

Sebagaimana yang dikatakan Danramil Baron yang juga sebagai pembina IPSI ranting Kapten Inf Joko Hari Susanto mengharap, perguruan pencak silat di Baron mampu menjaga kekompakan dan bisa menanamkan sikap positif kepada masyarakat luas. Sikap harmonis harus di kedepankan sebagai bentuk cinta Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesi (NKRI). "Marilah kita satukan perbedaan jurus di tiap-tiap perguruan menjadi satu alunan musik yang indah, yang mampu menghipnotis pendengarnya menjadi lebih tentram dan damai," ujar Danramil Joko. 

Hal yang sama juga disampaikan Kapolsek Baron AKP Jumari yang mengatakan, deklarasi kerukunan perguruan pencak silat adalah bukti kalau olahraga seni bela diri ini bukan salah satu pemicu pertikaian dan permusuhan tapi warisan budaya milik masyarakat ini adalah simbol budaya takbenda untuk kemanusian Unesco. "Tunjukkan pada masyarakat dunia, kalau pencak silat memang patut menjadi warisan budaya takbenda untuk kemanusian Unesco, dengan cara membentuk harmonisasi pada perbedan jurus dalam satu pandangan yaitu kerukunan untuk membentuk kesatuan agar tercipta kedamaian," ujar Kapolsek Jumari.

Kasno, S.Sos, Camat Baron kabupaten Nganjuk disamping senada dengan apa yang dikatakan Danramil 0810/08 Baron dan Kapolsek Baron juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada semua perguruan pencak silat yang ada di kecamatan Baron seperti perguruan pencak silat Setia Hati Terate, Pagar Nusa, Kera Sakti, Setia Hati Winongo, Tapak Suci Porsegal dan ASAD yang telah berkomitmet untuk ikut serta dalam menciptakan situasi kondusif di Kecamatan Baron."Saya berharap nota perjanjian ini bisa diimplementasikan dengan tindakan nyata dalam membawa kecamatan baron yang lebih aman dan sejuk," ujar Camat Kasno. 

Sedangkan para perwakilan ke-7 perguruan pencak silat se-kecamatan Baron juga berharap pertemuan ini sebagai langkah awal dalam menyamakan pola pikir untuk membentuk kerukunan, kedamaian dan ketentraman sebagaimana filosofi terbentuknya pencak silat oleh nenek moyangnya yaitu melindungi dan mempertahankan diri dari tantangan alam, bukan menebar permusuhan tapi sebagai pertahanan diri dari serangan musuh. "Kesatria atau pendekar tidak mengedepankan otot tapi nurani (red. akal sehat), hal ini sebagaimana dalam ajaran dasar pencak silat yaitu air bisa memecahkan batu atau kekerasan dapat dikalahkan dengan kelembutan, karena itu nilai yang terkandung dalam pencak silat adalah kedamaian," pungkas ketua ranting Setia Hati Terate yang juga diamini ketua perguruan pencak silat lainnya, 25/01/2020. (Ind) 

No comments

Powered by Blogger.