Header Ads

Header ADS

AKIBAT VIDIO VIRAL PEDAGANG BAKSO ALAMI PENURUNAN DRASTIS


Nganjuk, Pojok Kiri, Masyarakat sempat dibuat resah dengan beredarnya informasi hoaks di media sosial (medsos), terkait bakso berbahan utama daging tikus yang membuat pedagang (pemilik) warung bakso di Desa Kedungmaron, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun untuk sementara tutup dan para pencinta kuliner bakso harus rela menahan keinginannya untuk jajan makanan ini.

Hal ini dipicu oleh beredarnya vidio hoaks yang sempat viral di medsos dan group-group whattsapp yang katanya pentol bakso berasal dari Kabupaten Nganjuk, sehingga hampir pemilik usaha pembuatan pentol bakso di wilayah Nganjuk mengalami penurunan omset sampai mencapai 50 persen dan penurunan pembeli bakso sampai mengalami penurunan hingga 70 persen.

Seperti pemberitaan di media massa beberapa waktu lalu, Sugeng yang diduga sebagai pemilik warung bakso yang sempat menjadi viral, mengaku mengambil bakso dari salah satu pengusaha pentol bakso yang beralamat di desa Kedungombo Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk dan telah menjadi langganan tetap, karena disamping pentol baksonya enak juga harganya tidak terlalu mahal. 

Sebagaimana penelusuran media ini, pemilik usaha bakso yang diduga sebagai dalang dari bakso berbahan tikus, Nanang Setiadi, mengatakan, disamping dirinya membenarkan kalau Sugeng sebagai salah satu pelanggannya melalui pedagang yang ada di Saradan Kabupaten Madiun. Bahkan dirinya sangat menyayangkan dengan adanya vidio hoaks yang berimbas pada omset penjualannya menurun drastis karena efek vidio tersebut. Sebab sebelum adanya vidio hoaks omset penjualannya berkisar Rp. 25 juta per-hari dan kini kisaran Rp 10 juta - Rp 12 juta.

"Imbas dari vidio hoaks yang sempat viral, penjualan kami menurun drastis. Hal ini tidak hanya permintaan dari pelanggan dari kabupaten/kota Madiun, tapi juga dari kabupaten Nganjuk, Jombang dan Kediri mengalami penurunan yang sangat drastis, karena isu pentol bakso berbahan tikus, meski perekam dan pengunggah vidio viral tersebut telah membuat pernyataan kalau vidio itu hoaks atau bohong, tapi kami tetap mendapatkan imbas kerugiaannya," ujar Nanang.

Masih lanjut Nanang meski dirinya saat ini mengalami penurunan omset, tapi dirinya tetap bisa bersyukur karena dengan viralnya vidio itu, pentol baksonya dilakukan uji lab oleh Polres Madiun dan hasilnya pentol bakso buatannya negatif dari daging tikus bahkan bahan-bahan terlarang lainnya seperti boraks maupun formalin. Semoga dengan hasil lab yang dilakukan pihak aparat penegak hukum akan berdampak pada kepercayaan masyarakat terutama pedagang bakso yang telah berlangganan lebih percaya diri dan mampu mendongkrak omsetnya.

"Sebagai ketua paguyuban pedagang bakso di Kabupaten Nganjuk, berharap kepada masyarakat untuk tidak melakukan hal yang dapat merugikan orang lain dan apabila ada unggahan di medsos dan faktanya masih diragukan untuk tidak ikut menyebarkan dan memvonisnya apalagi menyebar berita tentang pentol bakso tikus, kasihan kami para pedagang bakso harus menanggung kerugian atas apa yang tidak pernah kami lakukan karena ulah mereka yang tidak bertanggungjawab," pungkas Nanang, 05/02/2020. (Ind) 

No comments

Powered by Blogger.