Header Ads

Header ADS

PETASAN BAWAH KORBAN ANAK KECIL DI PRAMBON, KETUA FRAKSI GERINDRA JANGAN JADIKAN TRADISI

foto, R Bambang Agus Hendro Wibowo Ketua Fraksi Gerindra Nganjuk

Nganjuk, Pojok Kiri,  Tradisi menyalakan petasan di bulan Ramadhan mungkin bisa mendatangkan kesenangan bagi yang memainkannya tapi prilaku tersebut banyak menimbulkan hal-hal yang negatif, seperti memekakan telinga bagi orang lain, juga bisa mengurangi kekhusukan seseorang dalam melakukan ibadah di bulan Puasa. Bahkan dampak negatif lainnya yaitu ancaman ledakan petasan dapat mengakibatkan luka secara fisik.

Disamping itu, suara petasan juga berpotensi membuat orang terkejut saat terlelap tidur dan mereka yang mempunyai balita membuat anaknya tidak tenang dalam beristirahat, bahkan resiko yang tertinggi adalah bisa berpotensi mengancam keselamatan jiwa orang lain yang memiliki gangguan jantung ataupun yang tidak terbiasa mendapatkan kejutan seperti suara petasan, seperti contoh, seseorang yang mengendarai kendaraan yang kaget dengan suara petasan sehingga konsentrasinya terganggu dan akibatkan kecelakaan. 

Hal itu yang sering diabaikan oleh para orang tua yang sering membiarkan anaknya bermain petasan tanpa pengawasan, hanya untuk memberi kesenangan pada anaknya, sehingga orang lain dirugikan, bahkan keselamatan fisik anaknya-pun kadangkalanya terabaikan, seperti yang dialami Haf, bocah usia 5 tahun asal Dusun/Desa Rowoharjo Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk, yang mengalami luka bakar pada bagian wajah, dan tangan kanan, lantaran tersulut petasan pada hari Jumat, 08/05/2020 sekira pukul 21.30 WIB.

Dengan adanya kejadian tersebut membuat Ketua Fraksi Gerindra R Bambang Agus Hendro Wibowo menyesalkan atas kasus tersebut dan mengharap, bulan Ramadhan bisa diisi dengan peningkatan kesadaran kearah yang lebih positif. Karena bermain petasan adalah kesenangan sesaat  dan kurang bermanfaat baik bagi diri sendiri ataupun orang lain, apalagi merugikan. Sedangkan bermain petasan dianggap tradisi di bulan Ramadhan sangatlah keliru, karena di bulan yang penuh berkah bagi kaum muslim adalah bulan penuh ketenangan dan kekhusukan.

Sedangkan yang menganggap tradisi, karena kebiasaan buruk ini diturunkan dari generasi ke generasi. Sebab itu sosok orang tua sangat berperan besar dalam mencegah kebiasaan bermain petasan agar tidak menjadi sebuah tradisi. Orang tua perlu memberikan psikoedukasi bahwa bermain petasan tidak memberikan manfaat positif bagi anak-anak. Selain itu orang tua juga harus memberikan contoh untuk tidak bermain petasan. Perilaku orang tua adalah contoh terbaik bagi anak-anak. Orang tua jangan hanya sekadar memberikan materi kepada anak-anak dalam bentuk uang sebagai kompensasi cara membahagiakan anak-anak. 


"Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan akibat dari bermain petasan, perlu adanya kontrol para orang tua demikian juga remaja sehingga bermain petasan di bulan Ramadhan tidak lagi menjadi tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dan untuk pihak aparat penegak hukum untuk lebih tegas dalam melakukan penindakan bagi para penjual maupun pembeli sebagaimana peraturan dan Perundang-undangan yang berlaku, jangan beri ruang sedikitpun bagi para pelakunya agar kejadian Haf tidak terulang lagi," tutup mas Bowo sebagaimana sapaaan akrab R Bambang Agus Hendro Wibowo Ketua Fraksi Gerindra Nganjuk pada media ini, 10/05/2020. (Ind)

No comments

Powered by Blogger.