Header Ads

Header ADS

AKIBAT PROYEK BENDUNGAN SEMANTOK, INTENSITAS TRUK SEMAKIN TINGGI, WARGA KELUHKAN POLUSI DEBU

Nganjuk, Pojok Kiri, Warga Desa Sambikerep Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk banyak yang mengeluh atas proyek Bendungan Semantok yang menelan anggaran Rp.1,7 triliun, menyebarkan debu dan jalan-jalan menuju proyek strategis nasional ini sudah banyak yang rusak (tidak rata lagi) akibat volume truk bertonase tinggi bermuatan material intensitasnya semakin meningkat.

Menurut salah satu warga Desa Sambikerep yang juga membuka usaha warung dan namanya tidak mau dipublikasikan mengatakan, sejak adanya pengerjaan Bendungan Semantok, polusi debu kian meningkatdan jalan nasional Nganjuk-Bojonegoro menjadi tidak rata. 

"Pihak pengembang sepertinya tidak mempedulikan warga terdampak proyek tersebut, dan debu memang sengaja dibiarkan bertebaran tanpa ada penyiraman," ujarnya pada media ini mewanti-wanti namanya untuk tidak dipublikasikan karena merasa tidak enak sama kepala desanya, yang juga ikut terdampak polusi debu tapi diam.

Sedangkan menurut Ketua Komisi III DPRD Nganjuk, Marianto mengatakan, sudah menjadi kewajiban pengembang untuk mengurangi dampak lingkungan atas pengerjaan proyek, apalagi proyek nasional seperti pembangunan Bendungan Semantok. Karena pembangunan tersebut diyakininya nanti, akan membantu dan bermanfaat kepada masyarakat secara luas tapi pengerjaannya jangan sampai merugikan warga.

"Akibat intensitas truk bermuatan material yang semakin tinggi karena pengerjaan proyek itu, pengembang wajib melakukan penyemprotan untuk mengurangi polusi debu kepada warga terdampak. Sedangkan mengenai jalan yang tidak pernah dilakukan penyemprotan, kami baru mendengarnya. Karena itu nanti, dalam waktu dekat Komisi I akan memanggil semua pihak atas permasalahan tersebut," kata Marianto yang juga Politisi PDIP.

Hal senada juga disampaikan Tri Wahyu Kuncoro Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nganjuk, masyarakat terdampak pembangunan Proyek Semantok jangan sampai dirugikan baik karena polusi yang ditimbulkan ataupun kerugian-kerugian lainnya.

"Apabila masyarakat terdampak proyek Bendungan Semantok mengalami kerugian akibat pembangunan itu, sebaiknya untuk melaporkan kepada Kepala Desanya, Camat atau langsung kepada pelaksana proyek tersebut. Sedangkan akibat intensitas truk bermuatan material proyek yang semakin tinggi, pihak pengembang wajib melakukan penyemrotan tanpa diminta oleh siapapun lebih-lebih warga terdampak," tutur Tri Wahyu Kuncoro Kepala Dinas Lingkungan Hidup pada media ini, 10/06/2020. (Ind)

No comments

Powered by Blogger.