Header Ads

Header ADS

DIDUGA TERLAMBAT PENANGANAN PASIEN OPERASI CAESAR, 2 KASUS, 1 IBU, 2 ANAK TIDAK TERTOLONG DI RSUD KERTOSONO

Nganjuk, Pojok Kiri, Kasus kelalaian tenaga medis atau dugaan Malpraktek di Tanah air masih kurang mendapat perhatian yang serius, tidak jarang, kasus tersebut menguap entah kemana. Padahal pasien yang menjadi korban kelalaian itu tidaklah sedikit. Tapi ironisnya keluarga korban dan pasien malah sering mendapatkan hal yang kurang adil. Bahkan dalam usahanya untuk mendapatkan keadilan kerap terbentur dengan tembok tebal, sebab pembuktian dalam kasus tersebut, disamping menguras pikiran, energi juga nominal yang tidak sedikit dan bahkan bisa dibilang cukup rumit.

Seperti yang terjadi pada baru-baru ini di RSUD Kertosono. Pasien Lena Andriani 34 tahun istri dari Didik 32 tahun yang akan menjalani persalinan harus melalui tindakan operasi caesar. Bahkan menurut dokter kebidanan yang menangani istrinya mengatakan, harus secepatnya mendapatkan penanganan medis. Maka persiapan langsung dilakukan, sebagaimana standart prosedural kedokteran. Tapi permasalahan baru, mulai muncul, dokter anestesi yang bertanggungjawab atas pembiusan tidak segera datang.

Ditunggu beberapa jam, tetap tidak datang, sedangkan kondisi pasien yang cukup lama menahan sakit karena kontraksi kian melemah. Melihat kondisi yang demikian suami pasien sampai meminta untuk dilakukan upaya apapun demi keselamatan istri dan anaknya, juga tidak membuahkan hasil, karena RS yang akan dijadikan rujukan menolaknya. Maka pasien dan keluarga pasien mencoba untuk bersabar, 5 jam dari persiapan operasi barulah dokter anestesinya datang, tapi sayang hasil operasinya bisa dibilang gagal. Meski si Ibu selamat tapi anaknya tidak dapat diselamatkan.

Pasien Lena Andriani sebelum dilakukan tindakan operasi Caesar dan anaknya meninggal

Mendung duka langsung menyelimuti suami Lena, bahkan Didik sempat berang saat mengetahui anaknya tidak tertolong karena terlambat dalam penanganan tindakan operasi. "Rasanya, ingin memukul dokter itu" kata Didik sambil menahan emosi, tapi seketika emosinya reda dia pasrah dan menyerahkan semuanya pada Sang Kholiq, Yang Maha Pencipta, bahwasannya semua makhluk akan kembali pada-NYA.

Duka mendalam lainnya, tapi tidak seberuntung Didik, juga dialami oleh Pujianto suami Khusnul Khotimah. Ironisnya kematian anak dan ibunya disinyalir sama dengan Lena, hanya saja yang kali ini keduanya tidak tertolong. Seperti penuturan Pujianto, istrinya yang masuk masa persalinan awalnya berobat ke Bidan desa, tapi olehnya dianjurkan untuk melakukan persalinan di RSUD Kertosono. Maka pada hari Senin, 01/06/2020 sekira pukul 05.00 WIB sebagaimana Lena, pasien Khusnul yang akan melakukan persalinan juga masuk lewat IGD, sedangkan waktu itu sudah masuk masa melahirkan, tapi sayangnya mulai masuk RS (selama 17 jam) tidak ada tindakan dan baru ada tindakan medis pertama dari dokter sekira pukul 22.00 WIB.

Sedangkan tindakan medis yang kedua, satu jam setelah tindakan pertama dan berlanjut pada pukul 09.00 WIB pagi, baru akan dilakukan tindakan operasi Caesar, selang tiga jam kemudian salah satu tenaga medis mengabarkan bayi yang dikandung Khusnul meninggal karena minum air ketuban sekitar pukul 12.00 WIB. Selanjutnya ibu bayi yang melahirkan sekitar pukul 13.30 masih dalam ruang observasi dan masih menurut keterangan tenaga medis yang menangani pasien Khusnul, kalau ibu bayi masih mengalami pendarahan, serta kalau sampai 24 jam pendarahannya tidak kunjung reda akan dilakukan pengangkatan rahim.

Khusnul Khotimah dalam persiapan tindakan operasi Caesar dan meninggal bersama anak yang dilahirkannya 

"Mendengar kabar itu, saya seakan tidak punya tulang belulang, semuanya menjadi lemas dan pikiran tidak karuan. Belum lagi sekitar pukul 14.00 WIB, yang katanya, istri saya telah mengalami kekurangan darah dan persediaannya tidak ada, lantas pihak RS, meminta dua orang keluarga pasien untuk mendonorkan darahnya, maka saya tanpa berpikir panjang meminta kepada lima orang keluarga kami, agar bersedia mendonorkan darahnya untuk keselamatan istri saya. Tapi anehnya, keluarga kami yang semula akan mendonorkan darahnya, menurut informasi dari RS lagi, persediaannya sudah ada, meski ada keanehan disana, rasa syukur tetap kami panjatkan kepada sang Kholiq," ujar Pujianto terbata-bata.

Kejanggalan demi kejanggalan dilaluinya tanpa ada kepastian informasi atas penanganan yang begitu lama, harus ada tindakan medis, dan bahkan setelah 29 jam masuk RS, istrinya juga baru ada tindakan operasi Caesar, hal ini selalu menjadi pertanyaan tanpa jawaban dalam pikirannya. Lebih-lebih saat mendengar anaknya yang tidak bisa tertolong, sampai terakhir istrinya, juga diinformasikan sekitar pukul 17.00 WIB tidak bisa diselamatkan. Seakan semua persendiannya lepas dari tempatnya dan otaknya tidak bisa lagi dibuat untuk berfikir. "Sekarang apa yang harus kami lakukan, sedangkan kami hanya orang kecil, yang sedikitpun tidak tahu akan hal medis, karena itu saya hanya bisa memohon ada penjelasan akan hal itu dari pihak medis maupun pihak RS," harap Pujianto sambil meneteskan air matanya, kemaren.

Ditempat lain, Agus Zainal Abidin Kepala Bagian Tata Usaha/Humas RSUD Kertosono mengatakan, dirinya berada di posisi ini masih baru, dan ia hanya mengurusi bagian manajemen sedangkan mengenai medis bukanlah porsinya. Dan kalau mengenai dokter anestesi yang katanya tidak mau menangani pasien pada malam hari, dirinya belum tahu pasti. "Saya nanti akan coba koordinasi sama Plt Dirut RSUD Kertosono apakah hal tersebut sudah sesuai dengan SOP atau karena kelalaian dari dokter yang menangani," tuturnya pada media ini, kemaren. (Ind)

No comments

Powered by Blogger.