Header Ads

Header ADS

DOKTER ANESTESI RSUD KERTOSONO DIDUGA TELAT BERI PELAYANAN MEDIS, BAYI BARU LAHIR MENINGGAL

Nganjuk, Pojok Kiri. Didit 32 tahun, warga Desa Lestari Kecamatan Patianrowo Kab. Nganjuk, hari Selasa 26/5/1020 sekira pukul 16.30 WIB membawa istrinya ke RSUD Kertosono guna menjalani persalinan calon anak keduanya. Disana mereka masuk melalui IGD, dan setelah dilakukan pemeriksaan serta dianggap cukup, istrinya yang bernama Lena Andriani 34 tahun dipindahkan ke ruang persalinan.

Dari sinilah pokok permasalahan muncul, dimana pasien Lena yang seharusnya mendapatkan penanganan cepat, tepat dan akurat ternyata sebaliknya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Didit suami pasien Lena menjelaskan kepada media ini, dengan kondisi istrinya yang menahan sakit karena kontraksi kehamilannya, dia malah harus menunggu penanganan medis yang begitu lama.

"Karena kondisi yang demikian, istri saya disarankan melahirkan dengan cara operasi Caesar, maka saya sebagai suami menyetujuinya dan yang menangani adalah dokter spesialis kebidanan dan kandungan dr Made beserta dr Fajar sebagai dokter anestesi atau dokter yang bertanggungjawab dalam soal pembiusan. Setelah semua disiapkan sekira pukul 22.00 WIB dr Fajar tidak juga kunjung datang, sedangkan kondisi istri kian lemas karena harus menahan sakit," kata Didik suami Lena.

Dengan kondisi darurat dan kehadiran dokter spesialis anestesi yang tidak kunjung datang, pihak suami meminta pihak RSUD Kertosono untuk melakukan tindakan apapun agar istri dan calon anak keduanya selamat, lalu dicapailah kata rujukan ke RS lainnya. Alhasil RS Kediri, Jombang dan Madiun yang dihubunginya, menolak menerima pasien Lena karena alasan yang tidak diketahui pihak Didik. Dengan perasaan gundah dan tubuh lemas maka, mau tidak mau harus menunggu kehadiran dr Fajar.

Pasien Lena Andriani sebelum dioperasi Caesar atau menunggu penanganan operasi dari dokter RSUD Kertosono

Lima jam kemudian dokter spesialis yang bertanggungjawab dalam pembiusan akhirnya datang dan tanpa menunggu lama, Lena langsung dibawah ke ruang operasi. Satu jam setengah berada dalam tindakan operasi Caesar, lalu seorang perawat keluar ruangan dan mengatakan kepihak keluarga pasien, kalau operasi Lena sudah selesai, tapi anak yang dilahirkan tidak tertolong. Merasa tersambar petir, Didik merasa terpukul dan lemas seakan urat persendiannya lepas dari tempat dan fungsinya.

"Mendengar kabar tersebut, saya langsung teringat perkataan dr Made, kalau penanganan tindakan operasi Caesar istri saya terlambat akan berakibat fatal pada pasien dan calon anak kami. Ingat hal tersebut, saya menjadi lebih lemas, mau marah lantas saya harus marah sama siapa dan kalaupun saya harus nuntut saya harus berpikir dua kali, apalagi kami hanya orang kecil lebih-lebih sekarang kami masih dalam keadaan berkabung," ujar Didik suami Lena kemaren

Hal yang sama dan tempat yang berbeda, juga disampaikan oleh salah satu dokter yang ada di Kabupaten Nganjuk yang tidak mau namanya dipublikasikan mengatakan, kalau pasien Lena yang saat itu sudah mengalami pecah ketuban maka harus mendapatkan penanganan medis cepat, tapi kalau benar pihak RSUD Kertosono sampai mencarikan RS rujukan berarti hal tersebut telah terjadi. Pasien benar-benar dalam kondisi darurat.

"RSUD Kertosono dalam menangani pasien yang akan operasi saat malam hari, dokter anestesi selalu tidak mau, bahkan dirinya sering mengatakan capek, sedangkan dalam tindakan operasi, dokter spesialis pembiusan adalah hal yang vital. Dan apabila sampai ada pasien yang mengalami hal yang tidak diinginkan atau terlambat dalam penanganan operasi yang paling bertanggungjawab adalah dakter bagian pembiusan," tutur dokter yang namanya minta untuk dirahasiakan pada media ini, 02/07/2020. (Ind/Ris)

No comments

Powered by Blogger.