Header Ads

Header ADS

RSUD KERTOSONO BERI KONTRIBUSI PENINGKATAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN ANAK

Nganjuk, Pojok Kiri, Disaat gencar-gencarnya Pemerintah pusat melalui Menteri Kesehatan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak, RSUD Kertosono malah mencetak rekor baru dalam penanganan kasus bersalin. Dimana dua kasus persalinan di RSUD Kertosono dengan tindakan operasi Caesar pada dua ibu, satu meninggal dan dua anak tidak dapat diselamatkan terjadi dalam satu pekan, sedangkan korban semuanya dari Kecamatan Patianrowo. 

Disisi lain kematian akibat persalinan memang diakui oleh banyak para tenaga medis di Indonesia, merupakan masalah yang multidimensional, karena bisa disebabkan banyak faktor pada kesehatan ibu, seperti kekurangan gizi, hipertensi, anemia dan juga faktor eksternal yaitu ketersediaan dan kecakapan tenaga medis dalam menangani persalinannya. Dimana ibu hamil yang sudah memasuki usia melahirkan harus cepat mendapatkan penanganan medis yang benar.

Sedangkan yang terjadi di RSUD Kertosono sebagaimana pengakuan korban dan keluarga korban diduga karena keterlambatan dalam penanganan operasi Caesar atau keterlambatan dokter anestesi dalam memberikan tindakan pembiusan. Sehingga adanya dugaan keterlambatan tersebut, berpengaruh besar pada tindakan operasi apapun termasuk Caesar pada dua pasien itu. Yang pertama terjadi pada hari Selasa, 26/05/2020, dengan kasus anak tidak tertolong saat dilahirkan ibunya, sedangkan yang kedua juga pada hari Selasa, 02/06/2020 dengan kasus anak meninggal dalam kandungan dan setelah dilahirkan, si-ibu mengalami pendarahan hebat yang akhirnya juga meninggal.

Dengan adanya dua kasus itu, RSUD Kertosono telah berkontribusi dalam peningkatan angka kematian ibu dan anak. Sedangkan menurut WHO, yang juga disepakati oleh para dokter spesialis kebidanan adalah, ibu hamil yang masuk dalam masa melahirkan harus mendapatkan perawatan medis yang tepat dan cepat, hal ini untuk menghindari terjadinya resiko kematian ibu dan anak. Karena penanganan yang lambat, mengakibatkan salah satu pelindung bayi dalam kandungan akan mengalami kerusakan atau pecah ketuban yang akhirnya mengganggu perkembangan dan kesehatan bayi dalam kandungan.

Sedangkan pada ibu yang melahirkan, disebabkan oleh penanganan yang lambat, bisa mengalami pendarahan postpartum yaitu pendarahan secara berlebihan setelah melahirkan. Disini tenaga medis dituntut untuk lebih ekstra, dalam menjalankan segala protap kesehatan saat memberikan penanganan yang cepat dan tepat, karena dengan adanya sedikit kesalahan saja, akan berakibat kematian, lantaran pasien ibu melahirkan sudah terlalu banyak kehilangan darah.

Dokter (dr) Ahmad Noeroel Cholis Plt Dirut RSUD Kertosono saat disinggung adanya dugaan tersebut oleh Komisi IV DPRD Nganjuk beberapa waktu lalu mengatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan dokter anestesi dan sebagai bentuk peningkatkan kinerjanya, manajemen RS telah menawarkan untuk, memberikan fasilitas transportasi antar jemput yang disediakan oleh pihak RS. Hal ini disebabkan yang membidangi pembiusan hanya ada satu tenaga medis, jadi dibutuhkan tenaga ekstra darinya.

"Saya sebagai Plt di RSUD Kertosono hanya 3 bulan atau sampai bulan Agustus. Sedangkan untuk pembenahan yang lebih baik, dan salah satunya dokter anestesi kami telah menawarkan opsi penyediaan transportasi antar jemput," ujar dr NurCholis sebagaimana sapaan akrab dr Ahmad Noeroel Cholis yang juga sebagai Kepala Dinas Kesehatan Nganjuk dalam raker dengan Komisi IV DPRD Nganjuk beberapa waktu lalu tanpa menyebutkan opsi tersebut sudah diterima oleh dokter anestesi atau tidak.

Sedangkan menurut informasi terpercaya dilingkup RSUD Kertosono yang namanya tidak mau disebutkan mengatakan, opsi-opsi dalam peningkatan kinerja dokter anestesi sudah berulang kali ditawarkan oleh pihak management dan selalu ditolaknya, bahkan opsi yang ditawarkan saat ini juga, sebagaimana isu santer yang beredar di RSUD Kertosono juga ditolak. "Resiko mengambil profesi tenaga medis yaitu harus selalu siap kapanpun dan dimanapu berada dalam penanganan kesehatan masyarakat, lebih-lebih pasien dengan resiko kematian yang tinggi, seperti ibu melahirkan," tuturnya pada media ini sambil mewanti-wanti namanya untuk tidak dipublikasikan, 16/06/2020.

Ketua DPRD Kabupaten Nganjuk Tatit Heru Tjahjono, dalam menyingkapi dugaan kasus tersebut mengatakan, pihaknya melalui Komisi yang membidangi akan mengagendakan pemanggilan pihak-pihak terkait secepatnya dan apabila terbukti ada unsur kelalaian dari dokter anestesi biar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Nganjuk melalui Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) yang menyelesaikannya. "Dan kalau nanti juga ditemukan ada unsur pidananya kita serahkan ke Aparat Penegak Hukum, biar diproses lebih lanjut dan ada efek jera dari pelaku serta sebagai contoh pada lainnya untuk tidak berbuat hal yang sama dikemudian hari," tutur Tatit.  (Ind)

No comments

Powered by Blogger.