Header Ads

Header ADS

ANGGOTA MPR RI GELAR SOSIALISASI EMPAT PILAR BERSAMA GP ANSOR DI KABUPATEN NGANJUK.

Nganjuk Pojok Kiri, Dalam rangka memberikan pemahaman tentang Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara, Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia (RI) tahun 1945 sebagai Konstitusi Negara serta Ketetapan MPR RI, Negara Kesatuan RI sebagai bentuk Negara dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Negara kepada masyarakat khususnya GP Ansor Kabupaten Nganjuk, Ir Soepriyatno Ketua Fraksi Gerindra dan Ketua Badan Sosialisasi MPR RI menggelar sosialisasi empat pilar MPR RI di aula Nirwana Nganjuk.

Pemahaman ini dimaksud agar setiap orang memiliki jiwa patriotisme yang kuat dalam mencintai tanah air dan rela berkorban untuk mempertahankan negaranya serta mempunyai semangat nasionalis dalam mempertahankan dasar dan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Berkenaan dengan tugas kenegaraan dan selaku anggota MPR RI, kami mengajak semua elemen masyarakat dalam sosialisasi empat pilar ini untuk mempunyai jiwa patriotisme dan nasionalisme yaitu perasaan keterikatan dan komitmen terhadap bangsa, negara dan komunitas serta kesetian kita kepada NKRI," kata Soepriyatno dalam membakar semangat para peserta sosialisasi.

Soepriyatno juga menyampaikan kalau dirinya bersama organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah menolak keras Rancangan Undang Undang  Haluan Idiologi Pancasila (RUU HIP) yang saat ini sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2020.

"Secara tegas kita menolak RUU HIP dibahas di DPR RI, karena kami wakil rakyat dari Partai Gerindra dan GP Ansor yang berafiliasi NU menganggap hal tersebut dapat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa serta membahayakan tata kehidupan dan keberagamaan karena secara filosofi dipandang dari mana saja beragama sulit menjadi gotong royong," tandas Soepriyatno. 

Sementara menurutnya, Pancasila itu bukanlah tebu yang dapat diperas-peras untuk diambil sarinya, tapi Pancasila adalah sebuah kesatuan yang saling menjiwai karya anak bangsa yang nasionalis dan relegius sedangkan Tri Sila atau Eka Sila adalah sebuah sejarah, sebelum lahirnya Pancasila, kalau diibaratkan bayi, Tri Sila dan Eka Sila masih dalam kandungan dan belum lahir jadi belum bisa dikatakan anak (orang/manusia).

"Hal ini jangan sampai terjadi gonjang ganjing, semua pihak harus mampu menahan diri, sebab Pancasila adalah kemampuan untuk mengendalikan diri, jadi siapapun yang tidak mampu akan hal tersebut, janganlah bicara kalau dirinya Pancasilais. Sedangkan sikap Partai Gerindra terhadap RUU HIP bersepakat menolak atau menghentikan RUU sebagaimana mekanisme dan ketentuan DPR RI," tutur Ir Soepriyatno pada awak media sesaat setelah acara sosialisasi dan pembagian sembako pada GP Ansor dan Muslimat Kabupaten Nganjuk usai, 15/07/2020, siang. (Ind).

No comments

Powered by Blogger.