Header Ads

Header ADS

DIDUGA ADMINISTRASI KPRI RUKUN MAKMUR PACE AMBURADUL, DANA MILYARAN RUPIAH RAIB DISOAL ANGGOTA

Bagus P salah satu anggota KPRI sedang menunjuk papan nama Koperasi para Guru se-kecamatan Pace dan Dwinoto Sekretaris KPRI bersama Ketua KPRI Rukun Makmur Khotimudin saat memberikan penjelasan atas dugaan raibnya modal usaha Koperasi yang dipimpinnya.

Nganjuk, Pojok Kiri, Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) "Rukun Makmur" Guru-guru Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk disinyalir ada kondisi yang kurang kondusif, hal ini dipicu sistem administrasi yang amburadul dan akibatkan kejelasan modal usaha sebagaimana yang tercatat di pembukuan berjumlah total sekitar Rp. 4 Milyar lebih, namun modal yang diketahui untuk sementara berjumlah Rp. 2 Milyar, sedangkan sisa sekitar Rp. 2 Milyar lebih belum ada kepastian kemana anggaran tersebut menguap.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan salah Satu Pengawas KPRI Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk, Isnaini Tri Supomo, dalam pengawasannya modal usaha KPRI Kecamatan Pace tersebut diambil dari simpanan (iuran) wajib para anggota sebanyak 200 orang sebesar Rp 100 ribu perbulan, dana simpanan pihak ketiga (tabungan Mana Suka), dan dari PKPRI (Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia).

"Kami sebagai pengawas KPRI Rukun Makmur menemukan ada divisit modal usaha di Koperasi tersebut sebesar Rp. 2 Milyar lebih dan kewajiban saya mempertanyakan penguapan anggaran itu, sedangkan yang saya ketahui hanya sekitar Rp 2 miliar saja yang beredar dalam KPRI Kecamatan Pace. Lantas sisa yang masih belum ada penjelasan dari pengurus KPRI terkait adanya divisit ,membuat para anggota menjadi resah dan bahkan berspekulasi dana yang raib dimakan para pengurus Koperasi," kata Isnaini.

Masih sebagaimana penjelasan Isnaini, dampak dari ketidakjelasan raibnya dana KPRI senilai sekitar Rp 2 miliar lebih, membuat para anggota yang rata-rata para Guru di Kecamatan Pace menjadi gusar dan mereka rata-rata telah mengajukan pengunduran diri dari keanggotaan KPRI. Karena mereka tidak menghendaki adanya pemotongan gaji setiap bulan untuk simpanan wajib KPRI sedangkan kejelasan modal usaha dan laba serta penggunaannya tidak ada penjelasan pasti (pembukuannya amburadul)

"Manajemen yang acak-acakan yang mungkin disengaja ataupun tidak disengaja oleh pengurus membuat kami sebagai pengawas mengalami kesulitan untuk mengetahui alur penguapannya. Dan dampaknya, para anggota Koperasi banyak yang mengajukan pengunduran diri ke pengurus KPRI. Sedangkan harapan kami segera ada kejelasan tentang penggunaan dana usaha Rp 2 miliar lebih yang sampai saat ini masih menjadi misteri. Kalau memang ada oknum pengurus lama KPRI yang menggunakan dana itu maka harus bisa dipertanggung jawabkan," ujar Isnaini.

Sedangkan salah satu Anggota KPRI Rukun Makmur Guru-guru Kecamatan Pace, Bagus. P menambahkan, pihkanya tidak bisa menerima bila modal usaha Koperasi yang seharusnya bisa diputar untuk memberi manfaat pada anggota ternyata disalahgunakan. Apalagi KPRI sendiri saat ini juga menerima simpanan dana dari pihak ketiga sehingga pengelolaan uang usaha Koperasi harus jelas. "Makanya, kami siap mempidanakan siapapun oknum pengurus Koperasi yang membawa uang yang nilainya miliaran itu. Karena kami sebagai anggota ini yang dirugikan oleh ulah oknum itu," kata Bagus.

Sementara Ketua KPRI Rukun Makmur Guru-guru Kecamatan Pace, Khotimudin menjelaskan, saat ini persoalan tersebut masih dalam proses pemeriksaan dan pelacakan pengurus KPRI Kecamatan Pace. Ini dikarenakan dalam Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) pengurus lama yang disampaikan dalam RAT (Rapat Anggota Tahunan) disebutkan modal usaha mencapai sekitar Rp 4 miliar. Namun dari jumlah uang tersebut ternyata yang beredar hanya sekitar Rp 2 miliar.

"Kami sebagai pengurus baru KPRI yang baru bekerja mulai awal Maret 2020 ini sedang melakukan pemeriksaan terhadap modal usaha Koperasi tersebut yang memang dirasa ada kejanggalan," kata Khotimudin didampingi Sekretaris Pengurus KPRI Rukun Makmur Guru-guru Kecamatan Pace, Dwinoto.

Oleh karena itu, tambah Khotimudin, pengurus baru komitmen belum akan melakukan rapat kerja sebelum ada kejelasan tentang modal usaha KPRI sebenarnya berapa. Setidaknya melalui pemeriksaan tersebut diharapkan nantinya bisa diketahui jumlah modal piutang berapa dan sisanya ada berapa.

"Sebetulnya hanya itu yang ingin kami ketahui saat dipilih menjadi Ketua Pengurus KPRI yang baru. Mengenai surat pengunduran dari sejumlah guru yang menjadi anggota belum diterima pengurus hingga sekarang ini, dan kami berharap seluruh anggota KPRI Kecamatan Pace bersabar menunggu proses pemeriksaan yang dilakukan," tutur Khotimudin, 20/07/2020. (Ind)

No comments

Powered by Blogger.