Header Ads

Header ADS

KADES DADAPAN DIDUGA TELANTARAN ANAK HASIL NIKAH SIRI

Nganjuk, Pojok Kiri, Yulianto, Kepala Desa (Kades) Dadapan, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, mendapat somasi dari YY 25 tahun mantan istri syar'inya warga Desa Tirto Binangun Kecamatan Patianrowo Kabupaten Nganjuk melalui kuasa hukumnya Bambang Sukoco SH, MHum. Somasi ini dilakukan karena, Kades Dadapan tidak mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan masalah klienya yang telah dikaruniai seorang anak berusia 4 tahun dari perkawinan sirrinya yang hingga kini diduga tidak pernah dinafkahi.

"Saya memberi waktu satu Minggu untuk menyelesaikan masalah ini secara baik baik dan kekeluargaan. Jika dalam waktu satu Minggu dia tidak kooperatif saya akan gugat secara pidana dan perdata. Sebab, klien kami sangat menderita baik secara moril maupun materiil," jelas Bambang Sukoco pengacara alumnus  Fakultas Hukum Unair, Surabaya ini.

Menurut Bambang Sukoco, Kades Dadapan itu, patut dituntut dengan pasal 3 Jo pasal 5 Undang Undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan pasal 263 Jo 266 KUHP tentang pemalsuan surat dan atau memasukan data palsu. Ancaman hukumannya 7 tahun penjara.

Masih sebagaimana yang dijelaskan Bambang Sukoco, pernikahan syar'i  (siri) Yuliantono dengan YY berlansung pada tahun 2016 di Desa Jekek, Kecamatan Baron. Dan yang menikahkan waktu itu adalah Pak Mad warga desa setempat. YY sendiri saat itu berstatus sebagai karyawan di koperasi simpan pinjam milik Yuliantono. "Hubungan antara bos dengan anak buah yang begitu dekat dan spesial, akhirnya terjadi pernikahan siri. Tetapi setelah lahir anak dari hubungan tersebut, pihak Yuliantono malah melalaikan kewajibannya untuk memberikan nafkah (tanggungjawab) terhadap anaknya," tandas Bambang.

Disatu sisi YY sendiri telah berulangkali dan tiada henti meminta kepada Yuliantono untuk mendaftarkan pernikahannya ke KUA agar kejelasan status anak dari pernikahan syar'inya menjadi kian jelas dan mendapatkan kepastian hukum dari negara. Setelah berulang kali didesak, tiba tiba Yuliantono memberi buku nikah terbitan KUA Loceret yang setelah dicek ternyata palsu karena tidak pernah tercatat disana.

"Setelah saya melakukan pengecekan di KUA Loceret ternyata buku tersebut palsu karena sebagaimana yang disampaikan kepala KUA Loceret kepada kami, pihaknya sama sekali tidak merasa mengeluarkan buku nikah tersebut. Jelas hal ini adalah pemalsuan dan masuk ranah pidana," tutur Bambang Sukoco pada media ini, 02/07/2020.(Ind)

No comments

Powered by Blogger.