Header Ads

Header ADS

PASANGAN SEJOLI HAMPIR USIA SEABAD ALAMI KEBUTAAN DAN LUMPUH HARAPKAN PERHATIAN LEBIH DARI PEMERINTAH.

Foto atas kakek Suwadi, foto bawah nenek Murtini yang terkulai lemas di atas tempat tidur, menggantungkan hidup pada ketujuh anak anaknya dan masyarakat sekitar. Foto samping Saji Kepala Desa Ketandan yang peduli kepada pasangan yang berusia hampir seabad ini. 

Nganjuk, Pojok Kiri, Sepasang suami  yang sudah berusia lanjut kini terbaring lemas diatas tempat tidur, kakek Suwadi 92 tahun dan istrinya Murtini 88 tahun warga Dusun Dukuh RT 04 RW 01 Desa Ketandan Kecamatan Lengkong Kabupaten Nganjuk yang hidup serumah dengan tempat tidur terpisah (bersebelahan diruang tengah) telah lama mengalami kebutaan dan kelumpuhan disebabkan oleh Multiple system' atrophy (MSA) atau biasa disebut gangguan sistem saraf dalam mengatur tubuh secara perlahan yang tergolong dalam penyakit langkah dan biasanya dialami orang berusia diatas 50 tahun.

Dengan kronologi awal, pasangan ini mengalami kebutaan atau yang diserang adalah sel saraf otonom yang menyebabkan pergerakan matanya menjadi abnormal, dan ini terjadi pada 5 tahun yang lalu tepatnya pada tahun, 2015. Dua tahun kemudian MSA menyerang saraf pada anggota gerak yang akhirnya menyebabkan pasangan kakek nenek ini menjadi disabilitas (lumpuh) dan hanya bisa berbaring lemas ditempat tidur. 

Sejak itulah pasangan suami istri yang hampir berusia seabad ini sudah tidak bisa lagi beraktifitas bahkan pemenuhan kehidupan sehari-harinya hanya mengandalkan 7 anak kandungnya yang semuanya telah berkeluarga dan rata-rata menjadi petani musiman. Sementara mereka sangat berharap, kehadiran dan perhatian lebih dari pemerintah. Sebagaimana yang dijelaskan Kepala Desa Ketandan Kecamatan Lengkong Kabupaten Nganjuk Saji, keadaan yang seperti itu memaksa pihak pemerintah desa bersama masyarakat setempat untuk bersama-sama berempati pada pasangan tersebut.

"Kakek Suwadi dan nenek Murtini adalah pembelajaran bagi kita semua atas seberapa besar rasa sosial kita kepada orang tua jompo atau yang secara ekonominya kurang mampu, anak yatim dan sebagainya. Karena saya yakin orang tersebut kalau seandainya bisa memilih mereka tidak mau terlahir dengan kehidupan yang seperti sekarang. Mereka pasti memilih hidup yang layak dan kecukupan serta mempunyai keluarga utuh, anak-anak yang sukses dan nikmat sehat," ujar Kades Saji dalam mengetuk semua orang untuk selalu berempati.

Kades Saji juga menambahkan, pasangan orang tua jompo ini, selain Bantuan Tunai Langsung (BLT) Dana Desa (DD) Covid-19 belum mendapatkan bantuan lainnya dari pemerintah, baik daerah, provinsi maupun pusat. Hanya anak-anaknya dan masyarakat setempat yang selama ini menyuplai keperluan hidup seperti makan dan minumnya. Karena itu dirinya berharap ada perhatian lebih dari instansi terkait dari pemerintah daerah sampai pusat kepada pasangan tersebut.

"Selama ini pemerintahan desa bersama masyarakat terus melakukan upaya untuk membantu pasangan jompo ini, meski belum bisa dikategorikan layak, tapi kami berusaha agar kakek Suwadi dan nenek Murtini tetap bisa merasakan nikmat hidup. Kami yakin dengan adanya kepedulian ini, akan membuat suasana hatinya tenang dan senang, karena kami selalu ada dan selalu mendukung untuk cepat mendapatkan nikmat sehatnya," tutur Saji Kades Ketandan pada media ini, 19/07/2020. (Ind)

No comments

Powered by Blogger.