Header Ads

Header ADS

PANDEMI COVID-19 MENJADI BERKAH PETANI DESA GEMENGGENG

Nganjuk, Pojok Kiri, Para petani di Kabupaten Nganjuk berharap harga komoditi bawang merah tidak mengalami penurunan signifikan pada saat panen raya sekarang ini. Pasalnya, bila harga bawang merah mengalami penurunan dipastikan petani kembali tidak mendapatkan keuntungan seperti yang diharapkan.

Salah satu Petani Bawang Merah Desa Gemenggeng Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk, Tarmuji mengatakan, kondisi cuaca selama penanaman bawang merah dirasa cukup bagus. Selain ketersediaan air yang mencukupi juga suhu dan kelembaban udara sangat cocok untuk tanaman bawang merah. "Namun pertumbuhan tanaman bawang merah agak sulit kali ini dan membutuhkan kesabaran dalam perawatannya. Dan Alhamdulillah hasil panen boleh dibilang sebagai panen raya saat ini," kata Tarmuji.

Dijelaskan Tarmuji, untuk satu hektar tanaman bawang merah di musim panen raya sekarang ini dikisaran 17 ton hingga 18 ton. Dalam panen bawang merah musim sebelumnya hanya dikisaran 15 ton per hektarnya. Dengan demikian dengan kisaran harga jual bawang merah sekarang ini sekitar Rp 12 ribu perkilogramnya maka hasil penjualan bawang merah bisa mencapai kisaran Rp 210 juta per hektarnya.

"Tentunya dengan biaya bibit, tanam, dan perawatan hingga biaya panen mencapai Rp 150 juta perhektarnya maka keuntungan kami tahun ini lumayan bagus. Dan keuntungan itu bisa untuk menutup kerugian musim tanam bawang merah sebelumnya," ucap Tarmuji.

Sementara Kepala Desa Gemenggeng Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk, Hariyono mengatakan, panen raya bawang merah di Desa Gemenggeng dan Desa-desa lain kali ini sebagai panen raya. Adanya pandemi Covid-19 yang menyebabkan harga jual bawang merah bertahan di kisaran Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu perkilogram. "Jadi panen bawang merah dari petani kali ini cukup melimpah dan harga jual mahal, sehingga cukup baiklah panenan bawang merah kali ini sehingga mendatangkan keuntungan cukup besar bagi petani di tengah Pandemi Covid-19," kata Hariyono.

Desa Gemenggeng yang juga sebagai Kampung Tangguh Semeru pertama di Kabupaten Nganjuk, dikatakan Hariyono, dalam proses perawatan dan panen bawang merah juga tetap memperhatikan protokol kesehatan covid-19. Semua petani dan pekerja rajin memakai masker juga selalu menjaga jarak saat perawatan bersama. "Makanya, kami merasa Covid-19 membawa berkah tersendiri bagi petani bawang merah di Desanya dan Kabupaten Nganjuk sekarang ini," ujar Hariyono.

Di Desa Gemenggeng sendiri, tambah Hariyono, dari sekitar 63 hektar lahan persawahan sekitar 80 persen ditanaman bawang merah. Dan hanya sekitar 20 persen yang ditanami tanaman lain seperti jagung dan kedelai. Dan juga, diakui Hariyono, tidak adanya panen raya di wilayah Brebes Jawa Tengah dan Probolinggo Jawa Timur menjadi keuntungan tersendiri bagi petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk sekarang ini.

Di samping itu, menurunya pasokan bawang merah impor ke pasar Indonesia dampak Covid-19 juga menyebabkan harga sekarang ini tidak jatuh. Dengan demikian, hasil panen raya bawang merah petani di Kabupaten Nganjuk sekarang ini banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar di berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari Jakarta, Semarang, Surabaya, dan wilayah luar Pulau Jawa.
"Kami berharap kondisi harga bawang merah tetap stabil disaat panen raya sekarang ini. Karena saat ini saatnya petani bawang merah menikmati jerih payahnya bertanam bawang merah," tutur Hariyono Kepala Desa Gemenggeng Kecamata Bagor Kabupaten Nganjuk, 18/08/2020. (Ind).

No comments

Powered by Blogger.